[ Space Iklan Header 728x90 ]

KHUTBAH IDUL ADHA: MEMETIK HIKMAH PENGORBANAN DAN KETAATAN

KHUTBAH PERTAMA


اللهُ أَكْبَرُ (9 ×)

اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا. لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ. لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ.


الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي جَعَلَ لِلْمُسْلِمِيْنَ عِيْدَ الْأَضْحَى بَعْدَ يَوْمِ عَرَفَةَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْعَلَّامُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ خَيْرُ الْأَنَامِ.


اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْبَرَرَةِ الْكِرَامِ.


أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.


**Jamaah Shalat Idul Adha yang Dimuliakan Allah,**


Pagi hari ini, gema takbir, tahmid, dan tahlil membelah angkasa, menandakan tunduknya hati kita di hadapan kebesaran Allah SWT. Kita berkumpul di sini dalam keadaan sehat wal afiat, merayakan Idul Adha atau Hari Raya Qurban, sebuah momentum besar untuk mengenang kembali sejarah ketauhidan dan kemanusiaan yang diukir oleh Nabiyullah Ibrahim AS, Siti Hajar, dan putra tercinta Ismail AS.


**Hadirin Rahimakumullah,**


Hikmah pertama yang dapat kita petik dari Idul Adha adalah **Ketundukan Mutlak (At-Taslim)** kepada perintah Allah. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surat As-Saffat ayat 102:


فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ


*“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: ‘Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!’ Ia menjawab: ‘Wahai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatinya termasuk orang-orang yang sabar’.”* (QS. As-Saffat: 102)


Ayat ini merupakan puncak dari ujian cinta. Nabi Ibrahim diperintah untuk menyembelih putra yang telah dinantikannya selama puluhan tahun. Namun, karena dasarnya adalah iman dan *mahabbah* (cinta) kepada Allah, perintah yang secara akal manusiawi sangat berat itu dijalankan dengan penuh ketenangan.


Imam al-Ghazali dalam kitab *Ihya Ulumuddin* menjelaskan bahwa hakikat qurban bukanlah sekadar mengalirkan darah hewan ternak, melainkan menyembelih sifat-sifat kebinatangan (*sifatul bahimiyah*) dalam diri kita; seperti rakus, egois, merasa paling benar, dan cinta dunia yang berlebihan.


**Jamaah yang Berbahagia,**


Hikmah kedua adalah **Solidaritas Sosial dan Kemanusiaan**. Idul Adha mengajarkan kita bahwa kesalehan ritual harus berbanding lurus dengan kesalehan sosial. Kita dilarang memakan seluruh daging qurban sendirian; ada hak fakir miskin dan tetangga di sana.


Nabi Muhammad SAW bersabda dalam sebuah hadits riwayat Imam Ahmad dan Ibnu Majah:

مَا عَمِلَ آدَمِيٌّ مِنْ عَمَلٍ يَوْمَ النَّحْرِ أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ مِنْ إِهْرَاقِ الدَّمِ

*“Tidak ada amalan manusia pada hari raya Idul Adha yang lebih dicintai Allah melebihi mengalirkan darah (menyembelih hewan qurban).”* (HR. Tirmidzi).


Ibadah qurban mendidik kita untuk peduli pada sesama di tengah kesenjangan ekonomi. Di tengah masyarakat kita yang majemuk di NKRI, qurban menjadi simbol harmoni. Kita berbagi kebahagiaan tanpa memandang strata sosial, memperkuat *ukhuwwah Islamiyah* (persaudaraan sesama Muslim) dan *ukhuwwah wathaniyah* (persaudaraan sesama bangsa).


**Hadirin yang Dirahmati Allah,**


Hikmah ketiga adalah **Pendidikan Keluarga dan Bakti kepada Orang Tua**. Dialog antara Nabi Ibrahim dan Ismail AS adalah contoh komunikasi keluarga yang luar biasa. Sang ayah tidak otoriter, dan sang anak menunjukkan bakti yang luar biasa. 


Dalam tradisi Nusantara, kita mengenal konsep "Ngajeni" atau menghormati orang tua. Kepatuhan Ismail adalah cermin bagi generasi muda saat ini untuk senantiasa taat kepada Allah dan berbakti kepada orang tua (birrul walidain), selama perintah tersebut tidak bertentangan dengan syariat.


Oleh karena itu, marilah di hari yang mulia ini, kita perbaharui niat kita. Jika kita memiliki kelapangan rezeki, janganlah ragu untuk berqurban. Janganlah kita menjadi golongan yang ditegur Nabi SAW: *"Barangsiapa memiliki kelapangan (rezeki) tapi tidak berqurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat kami."* (HR. Ahmad & Ibnu Majah).


بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.


---


### **KHUTBAH KEDUA**


اللهُ أَكْبَرُ (7 ×)

اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا.

الْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْبَشَرِ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.


**Jamaah yang Dimuliakan Allah,**


Di akhir rangkaian ibadah hari raya ini, marilah kita senantiasa menjaga kerukunan. Hari raya ini adalah hari kegembiraan. Sampaikanlah salam dan maaf kepada orang tua, keluarga, dan tetangga. Jangan biarkan ada kebencian bersemi di hati kita, karena Allah tidak akan melihat daging dan darah qurban kita, melainkan ketakwaan yang ada di dalam dada kita.


لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ


*“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan darimulah yang dapat mencapainya.”* (QS. Al-Hajj: 37).


Marilah kita berdoa kepada Allah SWT agar bangsa Indonesia senantiasa diberikan kedamaian, keberkahan, dan perlindungan.


إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.


اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

اللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْنَ.

اللّٰهُمَّ اجْعَلْ بَلْدَتَنَا هَذِهِ (إِنْدُوْنِيْسِيَا) بَلْدَةً طَيِّبَةً آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً، رَخِيْصَةً أَسْعَارُهَا، غَزِيْرَةً أَمْطَارُهَا، دَائِمًا خَيْرُهَا، وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ.

اللّٰهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا ضَحَايَانَا وَصَلَاتَنَا وَقِيَامَنَا وَجَمِيْعَ أَعْمَالِنَا الصَّالِحَةِ.


رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.


عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.


**عيد مبارك، وكل عام وأنتم بخير**

(Selamat Hari Raya, semoga Anda senantiasa dalam kebaikan sepanjang tahun).

Diberdayakan oleh Blogger.