[ Space Iklan Header 728x90 ]

Cara Tirakati Anak Agar Jadi Anak Soleh

 Para ulama dahulu sering mentirakati atau riyadhoh (olah spiritual ) anak agar menjadi anak yang sholeh. Ini merupakan salah satu ikhtiar orang tua untuk kebaikan anaknya



 dasarnya adalah Firman Allah 

QS:Al-Kahfi :82


وَأَمَّا ٱلْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَٰمَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِى ٱلْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُۥ كَنزٌ لَّهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَٰلِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَن يَبْلُغَآ أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنزَهُمَا رَحْمَةً مِّن رَّبِّكَ ۚ وَمَا فَعَلْتُهُۥ عَنْ أَمْرِى ۚ ذَٰلِكَ تَأْوِيلُ مَا لَمْ تَسْطِع عَّلَيْهِ صَبْرًا


Artinya: "Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya."


Ulama Ahli Tafsir menjelaskan bahwa ayat ini mengandung pelajaran moral bahwa amal saleh orang tua memiliki dampak perlindungan (proteksi spiritual dan material) bagi anak cucu di masa depan.


QS: Al-Furqon:74


وَٱلَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَٰجِنَا وَذُرِّيَّـٰتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍۢ وَٱجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا


Artinya:

" Dan orang-orang yang berkata, 'Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa."


Makna 'qurrata a'yun' adalah melihat mereka taat kepada Allah. Doa ini menunjukkan keinginan agar keluarga berada dalam hidayah.


QS. Al-Ma'idah: 35


يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَٱبْتَغُوٓا۟ إِلَيْهِ ٱلْوَسِيلَةَ وَجَٰهِدُوا۟ فِى سَبِيلِهِۦ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ


Artinya: 

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan/sarana) untuk mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah (berjuanglah) di jalan-Nya, agar kamu beruntung."

QS. Al-Ma'idah: 35 mengandung perintah fundamental bagi orang beriman untuk mencapai keberuntungan (falah) melalui tiga pilar utama: ketakwaan (taqwa), pencarian sarana kedekatan kepada Allah (wasilah), dan perjuangan sungguh-sungguh di jalan-Nya (jihad). Ayat ini menjadi basis teologis bagi konsep tawassul dalam Islam.

Dari Abu Qatadah al-Anshari RA, Rasulullah SAW ditanya tentang puasa hari Senin, maka beliau bersabda: 'Itu adalah hari aku dilahirkan dan hari aku diutus atau diturunkan wahyu kepadaku.' (Shahih Muslim, No. 1162)

Salah satu cara mentirakati anak adalah dengan puasa hari lahir atau yang umum dalam istilah Jawa disebut weton.

Puasa hari lahir anak atau yang dikenal dengan puasa weton dalam tradisi Nusantara adalah bentuk tirakat orang tua sebagai wujud syukur (syukr) kepada Allah SWT serta wasilah doa untuk keselamatan, keberkahan, dan keshalihan sang anak. Praktik ini memiliki landasan kuat dalam sunnah Nabi SAW yang mensyukuri hari kelahiran dengan berpuasa.

Rasulullah SAW pernah ditanya tentang puasa hari Senin:

Teks Hadis:

عَنْ أَبِي قَتَادَةَ الأَنْصَارِيِّ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ الاِثْنَيْنِ؟ قَالَ: «ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ، وَيَوْمٌ بُعِثْتُ - أَوْ أُنْزِلَ عَلَيَّ فِيهِ -»


Terjemahan:

Dari Abu Qatadah Al-Anshari RA, bahwa Rasulullah ﷺ ditanya tentang puasa hari Senin. Beliau bersabda: *"Itu adalah hari di mana aku dilahirkan, dan hari di mana aku diutus atau wahyu diturunkan kepadaku."*


Sumber Kitab:

1. Shahih Muslim, Kitab *Ash-Shiyam*, Bab *Istihbab Shiyam Tsalatsati Ayyamin min Kulli Syahrin*, No. 1162.

2. Musnad Ahmad, No. 22530.

3. Sunan Al-Kubra lil Baihaqi, No. 8182.


Filosofi Tirakat Puasa Hari Lahir (Weton) Anak


1. Landasan Teologis (Dalil Ashal)

Secara substantif, puasa hari lahir memiliki sandaran kuat dalam *Hadits Shahih*. Rasulullah SAW pernah ditanya tentang puasa hari Senin, lalu beliau menjawab:


*"Itu adalah hari di mana aku dilahirkan dan hari di mana wahyu diturunkan kepadaku."* (HR. Muslim).


Imam Jalaluddin as-Suyuthi dalam kitabnya menjelaskan bahwa mensyukuri nikmat keberadaan diri atau keluarga melalui ibadah (seperti puasa) pada hari terjadinya nikmat tersebut adalah hal yang dianjurkan dalam agama.


 2. Status Hukum dalam Madzhab Syafi'i

Dalam perspektif Fiqh Syafi'iyyah, puasa ini dikategorikan sebagai **Puasa Sunnah Mutlaq** atau **Puasa Syukur**. Tidak ada larangan khusus untuk berpuasa pada hari kelahiran (weton) selama tidak bertepatan dengan hari-hari yang diharamkan (Dua Hari Raya dan Hari Tasyrik).


Orang tua yang berpuasa untuk anaknya (tirakat) termasuk dalam bab *Tawasul bi al-A'mal al-Shalihah* (berwasilah dengan amal shalih). Orang tua melakukan ketaatan kepada Allah dengan harapan keberkahan ibadah tersebut dialirkan kepada sang anak agar menjadi pribadi yang shalih/shalihah, terjaga dari bala, dan luas rezekinya.


3. Esensi Tirakat dalam Tradisi Ulama Nusantara

Dalam tradisi *Ahlussunnah wal Jama’ah an-Nahdliyah*, puasa weton untuk anak bukan sekadar tradisi budaya, melainkan bentuk **Riyadhah** (latihan spiritual). Ulama-ulama Nusantara seperti KH. Hasyim Asy'ari dan para Masyayikh sering menekankan pentingnya orang tua melakukan tirakat agar 'batin' sang anak kuat.


Hal ini selaras dengan konsep dalam kitab *Nashaihul 'Ibad* yang menekankan bahwa keshalihan orang tua memiliki pengaruh besar terhadap perlindungan Allah kepada anak keturunannya, sebagaimana tafsir Surah Al-Kahf ayat 82 terkait dinding milik dua anak yatim yang dijaga Allah karena *"wa kana abuhuma shaliha"* (ayah keduanya adalah orang yang shalih).


 4. Tata Cara & Niat

Niat puasa ini harus murni *Lillahi Ta'ala* sebagai puasa sunnah.

Lafal Niat: 

Nawaitu shauma ghadin 'an ada'i sunnati li-syukri ni'matil milad wa li-sholahil walad, lillahi ta'ala.* (Saya niat puasa esok hari untuk menunaikan sunnah syukur atas nikmat kelahiran dan untuk kesolehan anak karena Allah Ta'ala).

Dianjurkan: 

-dibarengi dengan memperbanyak doa untuk anak dan sedekah pada hari puasa tersebut sampai saat berbuka.

-kirim fatihah untuk anak sebutkan namanya satu persatu setiap hari setelah tahajjud.

الى روح وجسده/ها ...فلن بن فلن...الفاتحه


Maraji': Kitab Shahih Muslim (Hadits No. 1162), Kitab Husnul Maqshid fi 'Amalil Mawlid (Imam as-Suyuthi), Kitab Tausyih 'ala Fathil Qarib (Syekh Nawawi al-Bantani), Kitab Nashaihul 'Ibad (Syekh Nawawi al-Bantani).

 

BANGKIT DARI KETERPURUKAN



Ketika berbagai masalah terasa begitu menghimpit. Semua jalan terasa buntu. Serasa hilang semua kemampuan diri. Kerja otak tak lagi normal untuk barpikir ‘di bawah normal’. Setiap yang kita lakukan hanya mendatangkan kekecewaan. Dekat sekali dengan keputusasaan. Semakin lama kita berada dalam kondisi seperti ini. Mungkin keesokan harinya kita sudah MATI bunuh diri-na’udzubillah min dzaalik-. Apa yang harus kita lakukan,agar bisa bangkit?

Memang situasi dan kondisi seperti ini sering terjadi pada setiap orang, ketika ia tidak bisa menghadapi masalah yang datang pada dirinya. Hidup yang kita jalani selalu dipengaruhi oleh peristiwa-peristiwa yang mucul kemudian. Seringkali mental yang telah di bangun dalam jangka waktu lama, hancur hanya karena satu masalah yang baru datang. Hanya karena satu kesalahan yang kita lakukan. Susah payah membangunnya tapi sangat mudah menghancurkannya. Satu sampai tiga bulan ketika dibangun namun hanya butuh waktu satu menit untuk menghancurkannya. Seperti halnya kalau kita membangun rumah. Butuh waktu berbulan-bulan untuk membangun, namun hanya butuh waktu satu jam untuk menghancurkannya. Membangun lebih sulit dari pada menghancurkan. Kembali muncul pertanyaan di atas. Apa yang harus kita lakukan,agar bisa bangkit?

Baiklah sekarang akan saya jawab menurut pengalaman saya pribadi. Dan tulisan ini dibuat untuk mengingatkan diri sendiri jika mengalami kembali keterpurukan hidup. Tentunya yang harus kita lakukan pertamakalinya adalah:

1.Niat berubah.
2.Do'a
3.Berusaha

1. Niat Berubah

Kenapa Niat ? yah dengan Niat kita sudah membuat Konsep tujuan kita. Bisa juga dikatakan niat ini seperti proposal permohonan yang kita akan ajukan pada Allah dan isi Proposal serta tindakan menyodorkannya adalah Do'a. Dengan adanya konsep yang telah terbentuk maka pekerjaan kita jadi lebih terarah. Pada hakikatnya niat adalah konsep matang dan penuh kesadaran dari dalam diri kita tentang suatu perbuatan yang akan kita kita lakukan. Tanpa adanya konsep kerja apa yang kita lakukan menjadi tidak jelas ujung pangkalnya, maksud tujuannya. Dalam bahasa Manajemen niat dapat dihubungkan dengan programing atau manajemen yang baik. Tanpa perencanaan sulit mengharapkan hasil yang baik. Jelaslah Niat lebih penting dari pekerjaan itu sendiri. 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُولِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

“Setiap amalan itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan niatnya. Barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan RasulNya, maka hijrahnya kepada Allah dan RasulNya. Dan barangsiapa yang hijrahnya untuk tujuan mendapatkan dunia atau wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya kepada apa yang dia niatkan.” 
(HR Al-Bukhari dan Muslim)

Ditegaskan dari hadis nabi di atas bahwa setiap amalan atau pekerjaan itu bergantung pada niatnya. Niatkan dalam hati untuk Berubah dengan ikhlas hanya karena Allah. Dengan begitu apa yang kita lakukan selanjutnya diiringi kuasa Allah. karena allah lah yang maha kuasa mengubah sesuatu.

Niaatkan dalam hati bahwa saya akan berubah lillahita'ala. karena niat adalah pekerjaannya hati.

2. Do'a

bersambung.....

3. Berusaha


a.Merubah cara berfikir
b.Menutup rapat-rapat pengalaman pahit dan lupakan.
c.Bergerak untuk mengusahakan yang kita inginkan semaksimal mungkin tanpa memikirkan bagaimana hasilnya nanti.
d.Jauhi mengeluh sejauh-jauhnya
e.Dimana ada kemauan disitu ada jalan
f.Lihatlah apa yang akan terjadi pada anda.

Bersambung.....
" Merangkai yang terlihat,terdengar dan terserak dari perjalanan hidup dan kehidupan, untuk diambil pelajaran dan pembelajaran. Lalu menggoreskannya dalam lembaran lembaran digital. Mungkin berisi nasehat,pelajaran,tips trik,informasi atau sekedar basa basi. Intinya hanyalah ingin berbagi. "
Hak cipta ada pada Penulis elbabadany. Diberdayakan oleh Blogger.