Niat ini ibarat gerbang pembuka, kunci dari setiap amal, yang akan menentukan diterima atau tidaknya, bernilai atau tidaknya suatu perbuatan di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala.
I. Niat Sebagai Ruh dan Pondasi Amal
Betapa fundamentalnya niat ini, sehingga Imam An-Nawawi menempatkan hadits tentang niat sebagai hadits pertama dalam kitab "Arba'in An-Nawawiyah", mengawali seluruh pembahasan Islam. Hadits ini juga dikenal sebagai salah satu dari tiga atau empat hadits yang menjadi poros utama ajaran Islam. Rasulullah ﷺ bersabda:
عَنْ أَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ أَبِي حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ:
**إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُولِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ.**
(رواه البخاري ومسلم)
Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
**"Sesungguhnya setiap amalan itu tergantung niatnya, dan sesungguhnya setiap orang hanya akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Maka, barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang ingin diraihnya atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ia niatkan."**
(Hadits riwayat Imam Bukhari nomor 1 dan Imam Muslim nomor 1907)
Hadits ini dengan sangat jelas menunjukkan bahwa niat adalah penentu nilai suatu amal. Dua orang bisa melakukan perbuatan yang sama, namun nilai dan pahala di sisi Allah bisa sangat berbeda, bahkan berlawanan, hanya karena perbedaan niat. Shalat, puasa, zakat, haji, bahkan sedekah, semua itu bisa menjadi amal shalih yang berpahala besar jika niatnya benar, atau hanya sekadar gerakan fisik yang tidak bernilai jika niatnya salah atau tercampur dengan tujuan duniawi.
**II. Definisi dan Tempat Niat**
Secara bahasa (lughawi), niat berarti **"qashdu"** yang bermakna maksud atau kehendak.
Adapun secara syara' (terminologi Islam), sebagaimana dijelaskan oleh para fuqaha' madzhab Syafi'i, niat adalah **"qashdul amali muqtarinan bi fi'lihi"**, yaitu maksud untuk melakukan suatu perbuatan yang dibarengi dengan pelaksanaan perbuatan itu.
Lalu, di mana tempat niat itu? Para ulama sepakat bahwa **tempat niat adalah hati (al-qalbu)**. Niat adalah pekerjaan batin. Melafazkan niat (talaffuzh bin niat) itu hukumnya **sunnah**, bukan wajib, sebagai bentuk taukid atau penguat niat di hati kita, sebagaimana pandangan jumhur ulama Syafi'iyah. Ini membantu memantapkan hati, terutama bagi orang yang mungkin kurang fokus. Namun, yang paling pokok tetap niat dalam hati.
**III. Hakikat Niat dalam Perspektif Tasawuf (Ikhlas)**
Hadirin yang berbahagia,
Lebih dari sekadar definisi fiqih, dalam pandangan tasawuf, hakikat niat jauh lebih mendalam, yaitu tentang **keikhlasan (al-ikhlas)**. Niat yang sempurna adalah niat yang semata-mata karena Allah (lillahi ta'ala), tanpa ada campuran syirik kecil berupa riya' (ingin dilihat dan dipuji orang) atau sum'ah (ingin didengar dan disanjung orang).
Imam Al-Ghazali dalam *Ihya' Ulumiddin* beliau menjelaskan bahwa niat yang murni adalah ruh bagi setiap amal. Tanpa ruh, jasad hanyalah bangkai tak bernyawa. Demikian pula amal tanpa niat yang ikhlas, ia hanya gerakan kosong tanpa makna di sisi Allah. Beliau menegaskan bahwa nilai sejati dari amal shalih tidak terletak pada bentuk luarnya, melainkan pada kemurnian niatnya.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Al-Qur'an:
**وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ**
(QS. Al-Bayyinah: Ayat 5)
**"Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus."**
Ayat ini menegaskan bahwa inti dari perintah ibadah adalah keikhlasan dalam beragama, yaitu memurnikan niat hanya untuk Allah. Ini adalah esensi dari tauhid dan ajaran Islam yang lurus.
**IV. Niat dalam Setiap Aspek Kehidupan**
Niat tidak hanya relevan dalam ibadah mahdhah seperti shalat, puasa, atau haji. Lebih dari itu, niat memiliki peran krusial dalam setiap aspek kehidupan kita. Seorang mukmin bisa mengubah kebiasaan atau adat istiadat menjadi sebuah ibadah hanya dengan niat yang benar.
Contohnya:
* **Makan dan Minum:** Jika kita makan dengan niat agar tubuh kuat dan sehat untuk beribadah kepada Allah, maka makan kita bernilai ibadah.
* **Tidur:** Jika kita tidur dengan niat agar tenaga pulih untuk bangun shalat malam atau beraktivitas esok hari dalam ketaatan, maka tidur kita bernilai ibadah.
* **Bekerja:** Seorang pekerja keras mencari nafkah, jika niatnya untuk menafkahi keluarga agar tidak meminta-minta dan menjadi pribadi mandiri yang bermanfaat, maka pekerjaannya bernilai ibadah.
* **Menuntut Ilmu:** Niat kita belajar agama atau ilmu dunia, jika untuk menghilangkan kebodohan, mengabdi kepada masyarakat, memajukan agama dan bangsa, maka belajar itu menjadi jihad fi sabilillah.
* **Silaturahmi:** Kita mengunjungi sanak saudara, tetangga, para ulama, jika niatnya untuk mempererat tali persaudaraan, berbagi kebaikan, atau mengambil keberkahan ilmu, maka itu bernilai sedekah dan ibadah.
Oleh karena itu, hadirin sekalian, kita dapati banyak ulama mengajarkan kepada kita agar senantiasa melakukan muhasabah niat, mengecek ulang niat kita dalam setiap tindakan. Jika niat kita benar, maka amal yang kecil bisa menjadi sangat besar nilainya. Sebaliknya, jika niat kita salah, amal yang terlihat besar pun bisa sia-sia di mata Allah.
Allah SWT juga berfirman dalam Surah Al-Isra' ayat 18-19, yang semakin menjelaskan tentang pengaruh niat ini:
**مَن كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَن نُّرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلَاهَا مَذْمُومًا مَّدْحُورًا**
**وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ وَسَعَىٰ لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَٰئِكَ كَانَ سَعْيُهُم مَّشْكُورًا**
**"Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki, kemudian Kami sediakan baginya (di akhirat) neraka Jahanam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. Dan barangsiapa menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh, sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik."**
(QS. Al-Isra': 18-19)
Ayat ini menunjukkan bahwa Allah akan membalas setiap perbuatan sesuai dengan niat pelakunya. Jika niatnya hanya dunia, dia akan mendapatkan bagian dunia yang Allah kehendaki, namun di akhirat tidak akan mendapat apa-apa selain azab. Sebaliknya, jika niatnya adalah akhirat, dia akan berusaha dan usahanya itu akan disyukuri (dibalas dengan kebaikan) oleh Allah.
**V. Pesan Para Ulama**
Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam *Fathul Bari Syarah Shahih Bukhari* juga menyebutkan bahwa hadits niat ini mencakup sepertiga dari seluruh ilmu karena amal seorang hamba itu ada tiga macam: amal hati, amal lisan, dan amal anggota badan. Niat adalah amal hati yang menentukan sah atau tidaknya amal-amal yang lain. Ini menunjukkan betapa niat itu adalah inti dari seluruh perbuatan.
Maka dari itu, jamaah sekalian,
Mari kita senantiasa menata ulang, meluruskan, dan membersihkan niat kita dalam setiap ibadah, muamalah, bahkan dalam tidur dan makan. Jadikanlah setiap hembusan nafas, setiap gerak dan langkah kita, semata-mata karena Allah, mengharap ridha-Nya, sehingga seluruh hidup kita menjadi rangkaian ibadah yang tak terputus.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala senantiasa membimbing hati kita untuk memiliki niat yang ikhlas, niat yang murni, sehingga setiap amal kita diterima di sisi-Nya dan menjadi bekal terbaik kita menuju kehidupan abadi di akhirat kelak. Amin.

0 comments:
Posting Komentar